Ketua MPR
Minta PKS Tetap Jadi Massa Madani
suarasurabaya.net| Insiden Monas yang terjadi tepat saat peringatan Hari Pancasila pada Minggu (01/06) lalu, disesalkan HIDAYAT NUR WAHID. Ketua MPR RI ini di depan ribuan pendukung PKS mengatakan, sangat disayangkan insiden Monas yang menimbulkan korban luka.
”Massa PKS anti terhadap kekerasan, tidak main sweaping, dan anti penindasan. Serta tidak berusaha menambah jumlah tuhan dan nabi. Massa PKS adalaha massa madani,” kata HIDAYAT.
Massa PKS, menurut HIDAYAT, menginginkan pemimpin yang berbeda dengan gubernur sebelumya. Makanya PKS mendukung KarSa menjadi gubernur Jatim periode 2008-2013. Diharapkan nantinya ada perubahan dengan menjadikan KarSa sebagai gubernur dan wakil gubernur.
”Massa madani tidak membebek mengikuti arus. Serta pendukung PKS tidak membabi buta dalam menginginkan sesuatu. Perlu diingat massa madani berbeda dengan civil society yang selalu absurd dan tidak jelas,” ungkap HIDAYAT. (kho/tin)
Minggu, 08 Juni 2008
MILAD X PKS di Jatim : Hidayat Minta PKS Tetap Jadi Massa Madani
Diposting oleh
penggerak.bangsa
di
19.42
|
Label: Hidayat Nur Wahid, Milad PKS
PILKADA JATIM: Milad X PKS, Ikrar Pemenangan KarSa
Reporter: Ida Akbar
Surabaya - Peringatan Milad ke-10 Partai Keadilan Sosial (PKS) benar-benar dimaksimalkan untuk menyolidkan struktur, kader dan simpatisan DPW PKS Jatim. Tak kurang dari 12 ribu kader dari Surabaya dan Sidoarjo memadati Gelora Pancasila Surabaya.
Sedikitnya 3 ribu massa kader dan simpatisan PKS dari Sidoarjo berkonvoi bersama untuk mengawali Milad ini. Mereka berak-arakan mulai dari jalan Aloha - A. Yani - Diponegoro - Polisi Istimewa sampai di Gelora Pancasila.
Mereka menggunakan bus, truk, mobil pribadi, kendaraan roda dua hingga kereta kelinci. Sementara 9 ribu massa dari Surabaya konvoi bersama dari 5 titik di Surabaya.
Dalam milad kali ini, DPW PKS Jatim ingin mengingatkan dan menunjukkan kepada masyarakat luas terkait kiprah PKS selama 10 tahun selama ini.
“Tidak sekadar muatan politis, momentum peringatan Milad ini juga digunakan untuk ajang pemberdayaan bagi keder dan masyarakat luas,” kata Ketua DPW PKS Jatim, Ja’far Trikuswahyono, di Gelora Pancasila Surabaya, Minggu (8/6/2008).
Acara milad yang dimulai sejak pukul 08.00 tadi, diisi berbagai penampilan seni nasyid, jula-juli, orasi politik, testimoni harapan tokoh masyarakat kepada PKS dan ikrar pemenangan KarSa. Diluar gedung, diadakan serangkaian acara untuk menghibur mereka yang tidak bisa mengikuti acara di dalam gedung. Diantaranya seperti senam PKS Nusantara, bazar dan pameran foto kiprah PKS.[eda/ted]
Diposting oleh
penggerak.bangsa
di
19.13
|
Label: Ja'far Tri Kuswahyono, Milad PKS, Pilkada Jatim, Soekarwo-Saifullah
PILKADA JATIM : LIPUTAN MEDIA (2) : Kader PKS Putihkan GOR Pancasila
Minggu, 08/06/2008 09:36 WIB
Kader PKS Putihkan GOR Pancasila
Irawulan - DetikSurabaya
Surabaya - Ribuan kader dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur pukul 08.00 WIB memenuhi GOR Pancasila, Jalan Indragiri, Surabaya, Minggu (8/6/2008). Kader dan simpatisan ini datang untuk menghadiri Milad.
Momentum Milad ke-10 ini untuk mensolidkan struktur, kader dan simpatisan serta sebagai ajang ikrar bersama pemenangan cagub Jatim pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Ikrar pemenangan KarSa ini rencananya akan dibacakan Kawilda Jatim Bali Sigit Sosiantomo.
Ikrar tersebut berisi, "Kami para kader dan simpatisan PKS dengan sepenuh hati berikrar, bertekad untuk memenangkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 dalam rangka mewujudkan Jawa Timur yang bersih Peduli Profesional menuju Masyarakat adil dan Sejahtera".
Rencananya pembacaan ikrar ini akan disaksikan oleh Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid dan sejumlah tokoh PKS lainnya seperti Ketua Umum DPW PKS Jatim Ja'far Tri Kuswahyono.
Selain orasi politik, Milad ke-10 yang dihadiri kader PKS baik dari Surabaya, Resik dan Sidoarjo juga digelar bazar dan hiburan. (wln/bdh)
Diposting oleh
penggerak.bangsa
di
19.08
|
Label: Hidayat Nur Wahid, Ja'far Tri Kuswahyono, Milad PKS, Pilkada Jatim, Sigit Sosiantomo, Soekarwo-Saifullah
Senin, 05 Mei 2008
Milad PKS ke 10: Bangkit Bersama Membangun Negeri
Artikel oleh : Ja’far Trikuswahyono , ST
(Ketua Umum DPW PK Sejahtera Jawa Timur)
Kita butuh dan mendambakan hadirnya seseorang atau kelompok orang yang berjuang secara konsisten dan lebih dari itu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten untuk melakukan sesuatu dengan gagasan dan aksi konkret untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.
Tepat pada Bulan April 2008, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memasuki usia 10 tahun. Sebuah usia yang masih relatif muda. Namun diharapkan pada usia yang relatif muda dan dihuni kader-kader muda yang militan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan negeri ini yang saat ini maish ditimpa krisis mutidimensional.
Karena itu, dalam menetum Milad ke 10 ini, PKS mengambil tema besar ; Bangkit Bersama Membangun Negeri. Reasioning dari diangkatnya tema ini adalah untuk bangkit dari keterpurukan harus dilakukan bersama oleh seluruh elemen bangsa. Karena Allah tidak akan merubah nasib satu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya
Pada tahun ini pula, Milad PKS bersamaan dengan 100 tahun Hari Kebangkitan Bangsa. Hari kebangkitan nasional ini merupakan hari yang sangat monumental sekali bagi berjalannya bangsa ini sampai sekarang. Nilai-nilai dan semangat keberagaman dan kebinekaan mampu diintegraskan dalam ketunggalan yakni indonesia. Meskinpun berlatar budaya dan sosial yang berbeda-beda, ada jong Sumatera, Jong Jawa, dan yang lainnya, namun semua itu mampu menyatukan rakyat Indonesia untuk bersatu, berjuang dan bangkit untuk melawan penjajahan.
Pada 100 tahun Kebangkitan Nasional ini merupakan memntum yang sangat pas bagi anak bangsa ini, terutama para elit negeri ini untuk berintrospeksi dan bangkit dari berbagai keterpurukan. Saat ini negeri yang sudah 62 tahun merdeka, masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang serius. Salah satu di antaranya adalah masalah korupsi.
Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, kita membutuhkan kebersamaan dan kebangkitan semua elemen bangsa ini, terutama para pemimpin negeri ini untuk berjuang secara konsisten melawan “penyakit bangsa ini” yakni korupsi. Selain masalah korupsi, juga masalah kemiskinan.
Dua masalah ini yang saat ini menjadi ancaman serius yang dihadapi bangsa ini, terutama masalah korupsi. Masalah terakhir ini yang menjadikan rakyat dan negeri ini loyo, miskin, dan tak berdaya dan bahkan mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negeri ini.
Di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang carut-marut ini, kita membutuhkan orang-orang bersih dan jujur yang mampu memberantas penyakit kronis bangsa tersebut. Kita butuh dan mendambakan hadirnya seseorang atau kelompok orang yang berjuang secara konsisten dan lebih dari itu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten untuk melakukan sesuatu dengan gagasan dan aksi konkret untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.
Penyakit Kronis
Tingkat korupsi di Indonesia sangat mengkhawatirkan dan menjadi penyakit kronis. Beberapa gambaran yang menunjukkan tingkat korupsi di Indonesia yang begitu parah sebagaimana ditunjukkan oleh KPK; Pertama, survei dari the Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) Januari - Februari 2005 terhadap 900 ekspatriat di Asia, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia
. Kedua, survei dari the Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) Januari - Februari 2005 terhadap 900 ekspatriat di Asia, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia. Ketiga, kebocoran dana pembangunan mencapai 50 persen dan pungutan tidak resmi mencapai 30 persen biaya produksi. Keempat, rendahnya pertumbuhan ekonomi (5,1 persen), indeks kualitas SDM dan tingginya angka kemiskinan (16,6 persen) dan pengangguran (9,7 persen). Keenam, utang pemerintah meningkat drastis menjadi sekitar 70 miliar dolar AS pada 2004, membengkak hingga antara aset pemerintah dengan utang defisit Rp 555 Triliun. Ketujuh, laporan BPK 1999-2004, penyelewengan uang negara terjadi sebesar Rp 166,5 Triliun rupiah, di mana Rp 144 Triliun merupakan pelanggaran BLBI.
Menurut catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dari nilai APBN 2004 sebesar Rp 584 Triliun, sebanyak Rp 23 Triliun dikorupsi. Lebih lanjut, KPK menyatakan, aktor pelaku korupsi paling banyak adalah anggota legislatif sebanyak 37 persen, di susul pejabat dinas pemda 18 persen, eksekutif 15 persen, pimpro 10 persen, parpol 3 persen dan kepolisian 2 persen.
Temuan KPK tersebut tak jauh beda dengan yang di relaease oleh Mendagri, yang menyebut ada sekitar 1.129 pejabat daerah korup. Pejabat daerah tersebut meliputi tujuh gubernur, 60 bupati/walikota, 327 anggota DPRD propinsi dan 735 anggota DPRD kab/kota di seluruh Indonesia. Mereka diduga melakukan tindak pidana korupsi antara tahun 2004-2006.
Mengguritanya korupsi ini pernah diungkapkan mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Syafi’i Ma’arif; korupsi sudah sedemikian kuat membelenggu kita, mulai istana sampai ke kantor kelurahan, sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, sejak lahir sampai meninggal. Merambah dari tempat ibadah sampai ke toilet ”
Harapan itu masih ada
Adapun dampak berantai dari korupsi di antaranya; pertama, rendahnya kualitas pelayanan publik; Kedua, timbulnya ekonomi biaya tingggi; Ketiga, berkurangnya penerimaan negara; Keempat, runtuhnya lembaga dan nilai-nilai demokrasi; Kelima, membahayakan kelangsungan pembangunan dan supremasi hukum; Keenam, meningkatnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat; Ketujuh, bertambahnya masalah sosial dan kriminal; Kedelapan, adanya mata rantai antara korupsi dengan bentuk-bentuk lain dari kejahatan, khususnya kejahatan terorganisir dan kejahatan ekonomi. Pendek kata, penyakit korupsi di Indonesia ini dalam kondisi sekarat.
Bangkitnya negeriku, harapan itu masih ada. Itulah salah satu tema yang diangkat PKS dalam Mukernas di Bali beberapa bulan lalu. Dan tema itu masih relevan dan menjadi tema inspirasi di momentum Milad dan hari Kebangkitan ini, yakni Bangkit Bersama Membangun Negeri. Bangsa dan negeri ini memilii modal dan potensi yang besar, baik dari segi SDM maupun SDA. Dengan kedua modal dan potensi besar itu, kita yakin negeri ini bisa bangkit da maju setara dengan bangsa-bangsa lain.
Dan kebangkitan bangsa ini dari keterpurukan tak bisa dibebankan pada individu atau kelompk tertentu. Semua elemen bangsa ini, baik di pemerintah, elit politik di DPR, maupun ormas dan NGO memiliki tanggung jawab yang sama sebagai bentuk kebersamaan kita dalam melakukan perubahan. Singkat kata, panjajahan yang paling bahaya dan membahayakan negeri ini adalah pejajahan aset negara dan rakyat oleh para koruptor. Penjajahan ini jauh lebih dahyat dampaknya daripada penjajahan secara fisik. Karena itu, perjuangan di era kebangkitan ini adalah bagaimana berjuang melawan korupsi. Bangktlah negeriku, harapan itu masih ada!. (dimuat Harian Surya, 27 April 2008)
Diposting oleh
penggerak.bangsa
di
07.09
|
Label: Ja'far Tri Kuswahyono, Milad PKS
Milad PKS ke 10: Bangkit Bersama Membangun Negeri
oleh: Ja’far Trikuswahyono , ST (Ketua Umum DPW PK Sejahtera Jawa Timur)
Kita butuh dan mendambakan hadirnya seseorang atau kelompok orang yang berjuang secara konsisten dan lebih dari itu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten untuk melakukan sesuatu dengan gagasan dan aksi konkret untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.
Tepat pada Bulan April 2008, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memasuki usia 10 tahun. Sebuah usia yang masih relatif muda. Namun diharapkan pada usia yang relatif muda dan dihuni kader-kader muda yang militan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan negeri ini yang saat ini maish ditimpa krisis mutidimensional.
Karena itu, dalam menetum Milad ke 10 ini, PKS mengambil tema besar ; Bangkit Bersama Membangun Negeri. Reasioning dari diangkatnya tema ini adalah untuk bangkit dari keterpurukan harus dilakukan bersama oleh seluruh elemen bangsa. Karena Allah tidak akan merubah nasib satu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya
Pada tahun ini pula, Milad PKS bersamaan dengan 100 tahun Hari Kebangkitan Bangsa. Hari kebangkitan nasional ini merupakan hari yang sangat monumental sekali bagi berjalannya bangsa ini sampai sekarang. Nilai-nilai dan semangat keberagaman dan kebinekaan mampu diintegraskan dalam ketunggalan yakni indonesia. Meskinpun berlatar budaya dan sosial yang berbeda-beda, ada jong Sumatera, Jong Jawa, dan yang lainnya, namun semua itu mampu menyatukan rakyat Indonesia untuk bersatu, berjuang dan bangkit untuk melawan penjajahan.
Pada 100 tahun Kebangkitan Nasional ini merupakan memntum yang sangat pas bagi anak bangsa ini, terutama para elit negeri ini untuk berintrospeksi dan bangkit dari berbagai keterpurukan. Saat ini negeri yang sudah 62 tahun merdeka, masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang serius. Salah satu di antaranya adalah masalah korupsi.
Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, kita membutuhkan kebersamaan dan kebangkitan semua elemen bangsa ini, terutama para pemimpin negeri ini untuk berjuang secara konsisten melawan “penyakit bangsa ini” yakni korupsi. Selain masalah korupsi, juga masalah kemiskinan.
Dua masalah ini yang saat ini menjadi ancaman serius yang dihadapi bangsa ini, terutama masalah korupsi. Masalah terakhir ini yang menjadikan rakyat dan negeri ini loyo, miskin, dan tak berdaya dan bahkan mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negeri ini.
Di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang carut-marut ini, kita membutuhkan orang-orang bersih dan jujur yang mampu memberantas penyakit kronis bangsa tersebut. Kita butuh dan mendambakan hadirnya seseorang atau kelompok orang yang berjuang secara konsisten dan lebih dari itu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten untuk melakukan sesuatu dengan gagasan dan aksi konkret untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.
Penyakit Kronis
Tingkat korupsi di Indonesia sangat mengkhawatirkan dan menjadi penyakit kronis. Beberapa gambaran yang menunjukkan tingkat korupsi di Indonesia yang begitu parah sebagaimana ditunjukkan oleh KPK; Pertama, survei dari the Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) Januari - Februari 2005 terhadap 900 ekspatriat di Asia, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia
. Kedua, survei dari the Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) Januari - Februari 2005 terhadap 900 ekspatriat di Asia, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia. Ketiga, kebocoran dana pembangunan mencapai 50 persen dan pungutan tidak resmi mencapai 30 persen biaya produksi. Keempat, rendahnya pertumbuhan ekonomi (5,1 persen), indeks kualitas SDM dan tingginya angka kemiskinan (16,6 persen) dan pengangguran (9,7 persen). Keenam, utang pemerintah meningkat drastis menjadi sekitar 70 miliar dolar AS pada 2004, membengkak hingga antara aset pemerintah dengan utang defisit Rp 555 Triliun. Ketujuh, laporan BPK 1999-2004, penyelewengan uang negara terjadi sebesar Rp 166,5 Triliun rupiah, di mana Rp 144 Triliun merupakan pelanggaran BLBI.
Menurut catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dari nilai APBN 2004 sebesar Rp 584 Triliun, sebanyak Rp 23 Triliun dikorupsi. Lebih lanjut, KPK menyatakan, aktor pelaku korupsi paling banyak adalah anggota legislatif sebanyak 37 persen, di susul pejabat dinas pemda 18 persen, eksekutif 15 persen, pimpro 10 persen, parpol 3 persen dan kepolisian 2 persen.
Temuan KPK tersebut tak jauh beda dengan yang di relaease oleh Mendagri, yang menyebut ada sekitar 1.129 pejabat daerah korup. Pejabat daerah tersebut meliputi tujuh gubernur, 60 bupati/walikota, 327 anggota DPRD propinsi dan 735 anggota DPRD kab/kota di seluruh Indonesia. Mereka diduga melakukan tindak pidana korupsi antara tahun 2004-2006.
Mengguritanya korupsi ini pernah diungkapkan mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Syafi’i Ma’arif; korupsi sudah sedemikian kuat membelenggu kita, mulai istana sampai ke kantor kelurahan, sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, sejak lahir sampai meninggal. Merambah dari tempat ibadah sampai ke toilet ”
Harapan itu masih ada
Adapun dampak berantai dari korupsi di antaranya; pertama, rendahnya kualitas pelayanan publik; Kedua, timbulnya ekonomi biaya tingggi; Ketiga, berkurangnya penerimaan negara; Keempat, runtuhnya lembaga dan nilai-nilai demokrasi; Kelima, membahayakan kelangsungan pembangunan dan supremasi hukum; Keenam, meningkatnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat; Ketujuh, bertambahnya masalah sosial dan kriminal; Kedelapan, adanya mata rantai antara korupsi dengan bentuk-bentuk lain dari kejahatan, khususnya kejahatan terorganisir dan kejahatan ekonomi. Pendek kata, penyakit korupsi di Indonesia ini dalam kondisi sekarat.
Bangkitnya negeriku, harapan itu masih ada. Itulah salah satu tema yang diangkat PKS dalam Mukernas di Bali beberapa bulan lalu. Dan tema itu masih relevan dan menjadi tema inspirasi di momentum Milad dan hari Kebangkitan ini, yakni Bangkit Bersama Membangun Negeri. Bangsa dan negeri ini memilii modal dan potensi yang besar, baik dari segi SDM maupun SDA. Dengan kedua modal dan potensi besar itu, kita yakin negeri ini bisa bangkit da maju setara dengan bangsa-bangsa lain.
Dan kebangkitan bangsa ini dari keterpurukan tak bisa dibebankan pada individu atau kelompk tertentu. Semua elemen bangsa ini, baik di pemerintah, elit politik di DPR, maupun ormas dan NGO memiliki tanggung jawab yang sama sebagai bentuk kebersamaan kita dalam melakukan perubahan. Singkat kata, panjajahan yang paling bahaya dan membahayakan negeri ini adalah pejajahan aset negara dan rakyat oleh para koruptor. Penjajahan ini jauh lebih dahyat dampaknya daripada penjajahan secara fisik. Karena itu, perjuangan di era kebangkitan ini adalah bagaimana berjuang melawan korupsi. Bangktlah negeriku, harapan itu masih ada!. (dimuat Harian Surya, 27 April 2008)
Diposting oleh
penggerak.bangsa
di
07.04
|
Label: Ja'far Tri Kuswahyono, Milad PKS