BERSIAP MENJEMPUT KEMENANGAN DI PEMILU 2014

Jumat, 23 Mei 2008

PKS Surabaya Gelar Talk Show Peringati Kebangkitan Nasional dan reformasi

“Meretas Kebangkitan dan Reformasi, Quo Vadis Visi Reformasi”.

Renungan ReformasiSurabaya-Sebanyak 100 pemuda dan mahasiswa pada Rabu (21/5) memadati kantor DPD PKS Surabaya. Mereka menghadiri talk show dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi yang diadakan DPD PKS Surabaya. Acara yang dimulai pada pukul 19.30 ini menghadirkan tiga panelis, yaitu Akhmad Suyanto, ST, MT (Anggota Legislatif PKS kota Surabaya, eskponen ’98), Badaruddin, SIP. (Staf Ahli Soeripto SH. anggota DPR RI, eksponen ’98), dan Aribowo, M.Si (Pengamat Politik dari Unair). Acara ini juga dimeriahkan dengan lantunan lagu yang bernuansa kritik sosial oleh musisi jalanan “Insani”.

Dalam talk show kali ini, PKS mengajak seluruh elemen masyarakat mencermati kondisi negri yang semakin terpuruk. Indikasi yang terlihat adalah akses pelayanan publik yang tidak merata, jumlah kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat, banyak dikorupsinya dana BOS, dan akses pendidikan yang tidak pro rakyat kecil. Selain itu PKS juga menilai bahwa saat ini pemerintah belum mampu menjalankan enam visi reformasi dengan semestinya. “Tugas besar para politisi saat ini adalah menjadi harapan bagi masyarakat untuk bisa memberikan pikiran dan tenaganya dalam upaya mencapai kesejahteraan”, ungkap Fatkur Rohman, ST, MT, ketua DPD PKS Surabaya dalam sambutanya. Fatkur juga menambahkan bahwa mahasiswa dan pemuda adalah aset berharga sebagai garda pengawal reformasi, oleh karena itu mereka akan selalu menjadi tumpuan harapan dalam proses pengawalan reformasi.

Pada kesempatan itu Akhmad Suyanto mengatakan bahwa orde reformasi haruslah menjadi rezim sebagaimana Orde Lama dan Orde Baru yang pernah bekuasa. Karena dengan cara seperti itulah orde reformasi bisa melakukan perbaikan. Selain itu Suyanto juga menyinggung bahwa reformasi haruslah menyentuh segala bidang, termasuk juga di tingkat birokrasi. Sedangkan pengamat politik dari Unair, Aribowo, mengungkapkan bahwasanya struktur birokrasi mulai dari zaman Hindia Belanda belum ada yang berhasil direformasi secara tuntas, sehingga diperlukan kekuatan dari luar untuk melakukan reformasi tersebut. Pasca reformasi ‘98 kekuatan politik menjadi lebih heterogen. “Hal ini menyebabkan kekuatan partai politik menjadi lebih kuat, dan ini jugalah yang menyebabkan proses pengambilan keputusan di negara kita sangat bertele-tele”, terangnya.

Talk show malam itu terasa lebih hangat, saat Badaruddin menyampaikan bahwasanya pemerintah saat ini tidak amanah. Hal tersebut diindikasikan dengan krisis energi yang terjadi di negeri ini. “Kenapa ketika harga minyak itu naik, produksi minyak dalam negeri justru menurun?”, tanyanya. Tingginya biaya politik menurut dia juga merupakan sebuah permasalahan, yang menjerumuskan mereka yang mempunyai visi baik ke dalam wilayah abu-abu, berhubungan dengan para mafia ekonomi, judi, pelacuran, dan juga obat-obatan bius. “Sehingga inilah yang membuat pemerintah lebih memperhatikan para penyumbang dana bagi keberlangsungan politiknya daripada rakyatnya sendiri”, tegasnya. Kemandirian bangsa menurutnya adalah salah satu solusi menghadapi kondisi bangsa yang tengah terpuruk.

Pada akhir acara, Fatkur Rohman menutup dengan pesan bahwa bangkit dari keterpurukan memang tidak cukup dengan sebuah perenungan. “Namun, paling tidak dengan momen malam ini kita bisa merenungkan tugas besar dalam mengawal 6 visi reformasi. PKS mengajak seluruh elemen dari negeri ini untuk bisa menjadi bagian dari solusi, bersama-sama berjuang bangkit dari krisis keterpurukan” ungkapnya.

ARSIP NASKAH